Soal “Marquee Player”, McMenemy Belajar dari Marcus Bent

com- Pelatih Bhayangkara FC, Simon McMenemy, menyatakan bahwa timnya tidak akan menggunakanmarquee playerpada Liga 1 2017. Sebab, dia melihat kehadiran pemain itu bisa menyebabkan masalah belajar dari kasus Marcus Bent pada 2012.
Telap ditetapkan PSSI, peserta Liga 1 bisa menambah kuota pemain asing apabila merekrutmarquee player. Kriteria untuk pemain tersebut adalahharus berumur di bawah 35 tahun, pernah bermain setidaknya di Piala Dunia atau pernah bermain di salah satu dari delapan liga elite internasional, dan bisa berasal dari negara mana saja.
Hanya, dengan nama besar, seorangmarquee playerdiprediksi juga akan menerima ekspektasi tinggi.
Di sini, suporter ingin pemain bintang danmarquee playerharus menjadi pilar yang bisa mengubah tim jadi lebih baik. Jika pemain itu gagal, mereka (suporter) menekan dan itu tak bagus, tutur Simon.
Padahal, hal itu sebenarnya bukan salah pemain berstatusmarquee player. Tetapi, semua terkait level permainan dan kesepahaman dalam menjalankan tugas di lapangan, ujarnya.
Baca:Empat Pemain Gratisan yang Bisa JadiMarquee Playerdi Indonesia
DOK.SKY SPORTS Mantan pemain sepak bola asal Inggris yang pernah bermain di Indonesia bersama Mitra Kukar, Marcus Bent.
Simon memiliki pengalaman pada musim 2012 ketika menangani Mitra Kukar. Saat itu, Simon memiliki pemain depan level Premier League, Marcus Bent asal Inggris.
Namun, eks striker Crystal Palace dan Blackburn Rovers itu hanya bertahan setengah musim di Indonesia Super League (ISL). Sebab, Marcus gagal memahami cara main rekan setimnya.
Level permainan Marcus Bent jauh di atas pemain Indonesia, dia gagal maksimal. Artinya, pemahaman permainan sepak bola di negeri ini dan Premier League misalnya jauh. Itu akan jadi masalah, kata Simon.
Berdasarkan pengalaman itu, saya tidak butuhmarquee playerdi Bhayangkara FC, tuturnya menegaskan.
Simon juga mengatakan, aturan penerapanmarquee playerdi Indonesia menjadi kontradiksi. Sebab, misi PSSI sekarang adalah memaksimalkan pemain muda, contohnya ketika menerapkan aturan pemain U-22 pada Piala Presiden.
Regulasi ini kontradiksi dengan misi menaikkan pemain muda di kompetisi. Saya pikir pemain dengan statusmarquee playerjustru bertentangan dengan kebijakan baru soal batasan usia pesepak bola, kata Simon.(Estu Santoso)
Baca:Evan Dimas Dapat “Bisikan” Setelah Indonesia Kalah dari Myanmar

fixmyacdenver.com data pengeluaran sgp Sumber: Kompas.com